Sejarah

Sejarah IDCC

Sejarah IDCC bermula dari tahun 2010, dimana Ibu Endang Setyati dan puteranya, Habibie Afsyah mulai mengadakan kegiatan pelatihan keterampilan kerja bagi penyandang disabilitas di sekitar wilayah Solo. Lambat laun, kegiatan tersebut mengundang lebih banyak simpatisan peduli disabilitas di wilayah Solo Raya untuk turut berpartisipasi.

Sering mengadakan kegiatan bersama, mereka pun mendapat ide untuk membentuk sebuah komunitas yang bisa mewadahi kepedulian mereka terhadap disabilitas. Tercetuslah gagasan mengenai Solo Disabled Care Community. Namun karena dirasa terlalu berbau kedaerahan, ide itu sempat ‘jalan di tempat’ untuk beberapa lama.

Barulah pada akhir 2011, ketika sekelompok mahasiswa Universitas Siswa Bangsa Internasional yang mengadakan kegiatan social “Disabled Children Empowerment (DICE)” bertemu dengan Ibu Endang dan Habibie, semangat untuk melanjutkan cita-cita tersebut kembali tumbuh. Semangat itu makin tersulut ketika mereka melihat fenomena banyaknya komunitas peduli disabilitas yang terkotak-kotak tanpa melibatkan nonpendis untuk bergerak.

Maka pada tanggal 3 Desember 2011, bertepatan dengan Hari Internasional Disabilitas, didirikanlah Indonesia Disabled Care Community (IDCC) dengan semangat baru; yakni untuk mendorong terciptanya masyarakat inklusif melalui kolaborasi dan sinergi dengan berbagai komunitas lain. Semangat itupun dituangkan dalam slogan IDCC, yaitu Aware-Care-Share. Selain menjadi kompas pengarah gerakan IDCC, slogan ini juga menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memahami, peduli dan berbagi dengan penyandang disabilitas.

 

Di Balik Nama dan Simbol IDCC

 

Pertanyaan yang paling sering muncul ketika kami memperkenalkan nama komunitas ini adalah, “Kenapa masih pakai kata disabled (penyandang disabilitas)? Bukannya sudah diganti menjadi difabel?”

Untuk menjawab pertanyaan itu, biasanya kami akan menjawab bahwa masalah nama ini tidak perlu diperdebatkan karena keduanya sudah jamak digunakan di negara kita. Tapi yang menjadi alasan mendasar kenapa kami ‘ngotot’ menggunakan istilah penyandang disabilitas (disabled people) adalah karena istilah ini tidak mengarah kepada perendahan martabat akibat ketidakmampuan seseorang, seperti yang dipikirkan oleh sebagian orang. Istilah ini justru sudah disepakati penggunaannya oleh berbagai institusi baik pemerintah maupun nonpemerintah. Melalui serangkaian proses yang cukup panjang, akhirnya pada semiloka di Jakarta, pada tanggal 20 Maret 2010, diresmikanlah istilah penyandang disabilitas sebagai pengganti istilah penyandang cacat. Istilah ini dipandang lebih tepat dibanding difabel, insan spesial, atau penyandang ketunaan berdasarkan banyak pertimbangan (lihat: Info Disabilitas). Namun demikian, karena IDCC mengusung nilai universal, maka digunakanlah padanan ‘penyandang disabilitas’ dalam bahasa Inggris, yaitu ‘disabled’.

 

 

Makna Logo IDCC

Logo IDCC merupakan kesatuan dari bangun datar beragam bentuk dan warna. Bangun-bangun datar ini mengusung sebuah lingkaran dan disokong oleh dua garis yang bersilangan.

598408_511795092172597_1332032823_n1.jpg

 

 

 

 

 

 

 

–  Bangun-bangun datar beragam warna yang tersusun rapi melambangkan bahwa unsur-unsur di dalam IDCC terdiri dari berbagai macam individu, baik penyandang disabilitas berbagai jenis maupun nonpenyandang disabilitas. Namun demikian, semua unsur tersebut bisa berdampingan dan menjadi sebuah harmoni yang indah.

–          Dua garis lurus bersilangan menjadi simbol kerja sama dan sinergi antara penyandang dan nonpenyandang disabilitas. Ikatan inilah yang menjadi penyokong atau sumber kekuatan pergerakan IDCC

–          Lingkaran di tengah beragam bangun datar melambangkan cita-cita kami, yaitu masyarakat inklusif yang padu; dimana dalam masyarakat tersebut, semua warga memiliki kewajiban dan hak yang setara tanpa diskriminasi sebagaimana diwakili oleh ribuan titik penyusun lingkaran tersebut.

 

 

 

Nilai-nilai organisasi

a) Visi:

 

Menjadi komunitas yang mampu menyinergikan potensi para penyandang disabilitas dan non penyandang disabilitas untuk berkolaborasi dalam upaya mendorong tiap individu menjadi insan mandiri, bermartabat dan mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat inklusif.

 

b) Misi:

 

 Bersama-sama meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesetaraan hak penyandang disabilitas dengan non-penyandang disabilitas.

 

 Bersama-sama mendorong kemandirian hidup penyandang disabilitas dan non penyandang disabilitas dengan mengadakan pertukaran pelatihan  soft-skills dan hard-skills.

 

 Bersama-sama mendorong terciptanya masyarakat inklusif di mana penyandang disabilitas dan non penyandang disabilitas bisa hidup berdampingan dalam harmoni.

 

c) Nilai-nilai Utama (core values):

 

 Kesetaraan (inclusiveness)

 

 Empati (empathy)

 

 Semangat dan dedikasi yang tinggi untuk berbagi (passion )

 

 Pemberdayaan potensi yang ada (empowerment)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *