Aksi Simpatik Kecam Perundungan Disabilitas

Siaran Pers

Mengecam Bully Disabilitas (MF) Di Kampus Universitas Guna Dharma 16 Juli 2017

Narahubung: Trian Airlangga 087780328205

Jonna Damanik +62 878-8845-7889

Peristiwa kekerasan yang menimpa MF mahasiswa Universitas Gunadarma yang dilakukan beberapa temannya di Kampus kembali menyanyat rasa kemanusiaan kita. Apalagi video yang berdurasi 14 detik yang diunggah oleh seseorang di Instagram menggambarkan tidak ada satupun yang mampu mencegah penghinaan tersebut, malah menunjukkan cara pandang sosial yang merendahkan. Bahkan saat korban berusaha membela diri menjadi bahan candaan dan teriakan yang memojokkan.

Bullying UG

Situasi ini sangat menimbulkan keprihatinan yang mendalam. UU Nomor 8 Tahun 2016 menyatakan pada pasal 42 ayat 3 bahwa Setiap Penyelenggara Pendidikan Tinggi wajib menfasilitasi pembentukan Unit Layanan Disabilitas. Sedangkan di Pasal 145 menyatakan Setiap Orang yang menghalang-halangi dan/atau melarang Penyandang Disabilitas untuk mendapatkan hak sebagaimana dalam pasal 143 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah). Pasal 143 point a menjelaskan tentang peringatan setiap orang yang menghalang-halangi penyandang disabilitas memperoleh hak pendidikan.

Oleh karena itu kami yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Hak Hak Penyandang Disabilitas menyampaikan hal hal sebagai berikut:

  1. Mengecam keras tindakan dan perilaku yang tidak manusiawi dari orang orang yang notabene sebagai mahasiswa.
  2. Mengecam segala bentuk cara pandang sosial yang mengarah pada penghinaan, merendahkan martabat kepada korban.
  3. Bagi semua Mahasiswa yang terlibat dan meramaikan perbuatan keji tersebut wajib diberikan sanksi sosial dan penyadaran tentang Hak Hak Penyandang Disabilitas.
  4. Hukuman sanksi sosial tersebut adalah 5 tahun berturut turut mengikuti kegiatan Disabilitas, minimal 2 kali setiap bulannya.
  5. Menuntut pelaku dan para mahasiswa yang menyaksikan perbuatan keji tersebut untuk mendapatkan bimbingan dari orangtuanya masing masing dan tidak mengulangi perbuatannya lagi
  6. Pihak kampus agar segera mensosialisasikan cara berinteraksi dengan Disabilitas dengan memperhatikan hak hak penyandang Disabilitas sesuai UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dengan melibatkan organisasi Disabilitas.
  7. Meminta Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sebagai penanggung jawab keberlangsungan Pendidikan Tinggi segera melakukan evaluasi atas Pendidikan Inklusi yang tidak memperhatikan hak hak penyandang Disabilitas di Universitas Guna Dharma dan mencegahnya agar tidak terulang kembali pada semua Universitas di Indonesia.  
  8. Kejadian ini harus menjadi perhatian semua lembaga Pendidikan Tinggi tentang pentingnya mensosialisasikan hak hak penyandang Disabilitas kepada seluruh civitas akedemikanya dengan membuka Layanan Unit Disabilitas dan menyertakan Penyandang Disabilitas dalam setiap aksinya.
  9. Bahwa hak dan kedudukan penyandang disabilitas secara konstitusional mempunyai posisi yang sama baik dimata hukum, masyarakat, lingkungan pendidikan dan pemerintahan.
  10. Penyandang disabilitas sebagai warga negara yang memiliki kebutuhan khusus, fisik, mental, intelektual, atau sensorik, akan berhadapan dengan berbagai hambatan yang dapat menghalangi partisipasi mereka secara penuh dan efektif dalam masyarakat, dengan berdasarkan pada asas kesetaraan dengan warga negara pada umumnya. Untuk itu semua pihak mempunyai kewajiban untuk melaksanakan UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang didalamnya mengandung 3 unsur yaitu tanggung jawab menghormati, tanggung jawab melindungi dan tanggung jawab memenuhi. Untuk itu menjadi tanggung jawab kita semua untuk memenuhi aksessibilitas baik fisik maupun non fisik.

Untuk itu beberapa perwakilan dari gerakan ini akan mengadakan Aksi Simpatik pada 17 Juli 2017 Jam 10.00 di Gedung Rektorat Universitas Gunadarma di Jalan Margonda Raya Depok dengan agenda Audiensi, membacakan pernyataan sikap bersama dan surat keprihatinan dari setiap organisasi disabilitas.

Semoga ada hikmah besar dari peristiwa ini, untuk lebih memperhatikan hak hak penyandangDisabilitas. Tentunya pengalaman ini menjadi tahapan sosialisasi terus menerus UU Penyandang Disabilitas setelah disahkan, guna memajukan hak hak penyandang disabilitas, dan umumnya membangun kualitas kehidupan yang lebih baik.

Demikian pernyataan sikap ini disampaikan untuk menjadi perhatian kita semua.  

#equalrightsnow  

#accessibility4all

Bagi yang mendukung pernyataan sikap dapat menuliskan nama organisasi/pribadi/komunitas dibawah  ini

Organisasi:

  1. Rumah Autis  
  2. Yayasan Balita Tunanetra  
  3. Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni)
  4. AUDISI Indonesia (Advokasi untuk Inklusi Disabilitas)  
  5. Bandung Independent Living Center (BILiC)  
  6. Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB)  
  7. LBH Disabilitas  
  8. Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA)  
  9. Yayasan Sehjira  
  10. Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan Sulsel (Perdik)  
  11. Federasi Kesejahteraan Penyandang Cacat Tubuh Indonesia (FKPCTI)  
  12. CIQAL – Yogyakarta  
  13. Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia – GERKATIN PROV. DKI JAKARTA  
  14. Pusat Rehabilitasi YAKKUM  
  15. Rumah Cerebral Palsy  
  16. Sehati Sukoharjo  
  17. PPDK -Klaten
  18. UCPRUK  Yogyakarta  
  19. Yayasan Cinta Sahabat Sosial  
  20. PPMDI (Persatuan Pengusaha Muda Disabilitas Indonesia)
  21. PLJ (Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat)
  22. PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia).
  23. PPDI Sragen
  24. HWDI Himpunan Wanita Disabilitas – Sulawesi Selatan
  25. DPP HWDI
  26. Dria Manunggal
  27. Yayasan Puspadi Bali
  28. FKM BKA Aceh
  29. Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK)
  30. Persatuan Penyandang Cacat (PERPENCA) Jember
  31. Forum Peduli Difabel Arjasa Jember 31. Forum Peduli Pendidikan Jember
  32. Rotary Club of Jakarta Sentral.
  33. SMA IMMERSION PONOROGO
  34. Akadini (Asosiasi Keluarga dengan Disabilitas Netra Indonesia)
  35. Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera – Gunung Kidul Yogyakarta
  36. PPRBM – Solo

Komunitas

  1. Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT)
  2. Perintis Jakarta Ramah Autis (PJRA)
  3. Koalisi Pejalan Kaki
  4. Komunitas Orangtua ABK Emak Cakep Anak Keren
  5. Naura Family Edu Centre
  6. Baby Community
  7. BEAT (Barrier Free Environment and Accessible Transport for All)
  8. Komunitas Emak Setrong (Ortu ABK)
  9. Indonesia Disabled Care Community (IDCC)
  10. Forum Malang Inklusi
  11. KUAT (Komite untuk Aksesibilitas Transportasi)
  12. Gerakan Peduli Disabilitas (Gertas)
  13. Paguyuban Inklusi Daya Mandiri Surabaya
  14. Bravo for Disabilities  
  15. Komunitas M16 – Mataram
  16. Akar Tuli Malang

Pribadi:

  1. Primaningrum A ( Ortu ABK & alumni STIMIK Gunadarma 1988)
  2. Niluh Sri Handayani( Ortu ABK & Alumni STIMIK Gundar 91)
  3. IB.Budi Utama (Ortu ABK & Alumni  STIMIK Gundar 91
  4. Cucu Saidah
  5. Dwi Ariyani
  6. Dina Fahima ( solider )
  7. Sri Lestari Klaten
  8. Samudra
  9. Jaka Ahmad (tunanetra/Flinders University, Australia)
  10. Maria Muslimatun – Yogyakarta
  11. Irdanelly (Alumni STIE Gunadarma 96)
  12. Istiaq Mubarak  
  13. Rini Rindawati (SAPDA)
  14. Rachmita (Pengajar tetap UMB, alumni UMB ’90)
  15. Sapto Suharno
  16. Yustitia Arief SH – Disabilitas Polio
  17. Harliza Diah Purnomowati
  18. Rubby Cahaya Rani
  19. Maesaroh binti Rozali
  20. Ruth Eveline
  21. Bahrul Fuad
  22. David Tjahjana (DAUN)  
  23. Lies Arum Wardhani
  24. Farida Lucky Utami
  25. Ria Deviana
  26. Slamet Tohari, PSLD Unibraw Surabaya
  27. Chairunnisa
  28. Frieda Simangunsong
  29. Totok Bintoro (IndoEducForAll)
  30. Noor Azmi (Pemerhati Disabilitas)
  31. Iin Saputri (Alumni Flinders University)
  32. Maria Un
  33. Totok Rawi Djati – SAPDA Jogja
  34. Primarendra – SAPDA Jogja
  35. Bambang Rudianto, S.Sos – Camat Sukorambi, Kab. Jember, Jawa Timur.
  36. Suparto – PERPENCA Jember, Jawa Timur
  37. Moh. Zaenuri Rofi’i – PERPENCA Jember
  38. Rike Puspitasari (Ortu ABK Autis)
  39. Ermasari Susanti (Ortu ABK Autis)
  40. Harliza Diah Purnomowati (Ortu ABK Autis)
  41. Adysti Issusilaningtyas (Ortu ABK Autis)
  42. Zakiyyatul Fakhiro (Ortu ABK Autis)
  43. Elly Silmi (Ortu ABK Autis)
  44. Agus Ferdinand (Ortu ABK Autis)
  45. Lovita Cendana (Ortu ABK Autis)
  46. Endang Susie (Ortu ABK Autis)
  47. Lenggang Pakuan (Ortu ABK Autis)
  48. Parameswari (Ortu ABK Autis)
  49. Jenny M Indarto (Ortu ABK Autis)
  50. Uswatun Hasanah (Ortu ABK Autis)
  51. Tika (Ortu ABK Autis)
  52. Briliantina L Hidayat (Ortu ABK Autis)
  53. Fitri Nurjana (Ortu ABK Autis)
  54. Sri Rahma (Ortu ABK Autis)
  55. Donna Angeline Utami (Ortu ABK Autis)
  56. Leni lestari (Ortu ABK Autis)
  57. Risrona Talenta Simorangkir (Ortu ABK Autis)
  58. Asnia Pane (Ortu ABK Autis)
  59. Debit Ridawati (Ortu ABK Autis)
  60. Rini Saribanon (Ortu ABK Autis)
  61. Jevi Silva (Ortu ABK Autis)
  62. Selfiana Safitri (Ortu ABK Autis)
  63. Darlia Martiningsih (Ortu ABK Autis)
  64. Nur Rany Fatimah (Ortu ABK Autis)
  65. Rani Rapshodhy (Ortu ABK Autis)
  66. Meriza Yolanda (Ortu ABK Autis)
  67. Sri Suwarti (Ortu ABK Autis)
  68. Michelle Dian Lestari (Ortu ABK Autis)
  69. Ita Lestari (Ortu ABK Autis)
  70. Herlina Nuraeni (Ortu ABK Autis)
  71. Daminatilada (Ortu ABK Autis)
  72. Kimshameka (Ortu ABK Autis)
  73. Nora Yuni Astuti (Ortu ABK Autis)
  74. Tata Syarief (Ortu ABK Autis)
  75. Ajeng Pramono (Ortu ABK Autis)
  76. Riza iskandar (Ortu ABK Autis)
  77. Budi Winarto (Ortu ABK Autis)
  78. Mathilda (Ortu ABK Autis)
  79. Ayu Yustitia (Ortu ABK Autis)
  80. Ling An (Ortu ABK Autis)
  81. Lovita Cendana (Ortu ABK Autis)
  82. Mutiara Huslaili (Ortu ABK Autis)
  83. Alifia Garani (Ortu ABK Autis)
  84. Ima Setiani (Ortu ABK Autis)
  85. Agustin Kurnia Dewi (Ortu ABK Autis)
  86. Khairunnisa F. A. (Ortu ABK Autis)
  87. Fauziyyah Salmaa (Ortu ABK Autis)
  88. Titi Nursamsyu (Ortu ABK Autis)
  89. Hafshah Aulia (Ortu ABK Autis)
  90. Nabila Sulistiani (Ortu ABK Autis)
  91. Selvita Brilyana (Ortu ABK Autis)
  92. Rizkia Sabilla (Ortu ABK Autis)
  93. Cahyati Rizky H (Ortu ABK Autis)
  94. Yayang Fadhyla A (Ortu ABK Autis)
  95. Yemima.C (Ortu ABK Autis)
  96. Wanda Fauzan (Ortu ABK Autis)
  97. M Andrew Antonio (Ortu ABK Autis)
  98. Maya DRF Wijaya (Ortu ABK Autis)
  99. Astri Permata Sari (Ortu ABK Autis)
  100. Suwito PGH (Ortu ABK Autis)
  101. Siswadi
  102. Berry B Tanukusuma (aktifis Insan Pasca Stroke dan Orangtua Anak Tuna Netra)
  103. Heroe DNIKS
  104. Ari Kurniawan
  105. Hardiyo – Gunung Kidul Yogyakarta
  106. Siswadi
  107. Siradjudin Fahmi (wartawan dan pemerhati permasalahan Disabilitas)
  108. Rita Fithriyaty
  109. Dian Septi  
  110. Patricia Tampubolon  
  111. Ridwan Sumantri – Disabilitas Pengguna Kursi Roda
  112. Sunarman Sukamto
  113. Heny Haryani
  114. Diana Effendi
  115. Mimi Lusli
  116. I Nengah Latra
  117. Suharto
  118. Revita Alfi
  119. Rina Prasarani

       

“Feeling”, Ketika Disabilitas Menyatukan Persahabatan

Ketika ketulusan menjadi landasan sebuah persahabatan, maka tak ada yang bisa menghalangi dua insan untuk menjalin kisah indah persahabatan, termasuk kendala bahasa. Setidaknya itulah storyline dari film “Feeling”.

Film yang diproduksi “Pilot Management” dari Jogja ini mengangkat kisah persahabatan antara seorang penyandang tuna netra dan tuna rungu yang sekaligus tuna wicara. Ide cerita ini terbilang baru karena belum pernah diangkat sebelumnya, dan sama sekali tidak ada unsur kesedihan atau memperlihatkan belas kasihan dari penonton.

Cerita ini akan digarap dalam durasi 3-5 menit, dengan memperlihatkan secara riil bagaimana dua orang dengan keterbatasan masing-masing—yang secara lahiriah tentu sangat sulit untuk bisa saling berkomunikasi, lebih-lebih menjadi seorang sahabat karib, namun dengan bahasa mereka sendiri, dengan pengertian dari perasaan mereka sendiri, mereka dapat mengerti kata-kata sahabatnya. Mereka bertukar cerita, bertukar perasaan, dan saling memberi harapan tanpa kata-bahasa yang sesungguhnya. Mereka mengunakan bahasa mereka sendiri, bahasa perasaan.

“Dengan film ini, kami berharap difabel bisa mendapatkan hak-hak mereka, pendidikan yang layak, hak-hak kehidupan sosial yang sama, infrastruktur yang bersahabat, struktur masyarakat yang bersahabat, sehingga kelak mereka dapat mengangkat harkat kehidupan mereka,” harap Alif Mahmudi, produser film ini.

Penasaran seperti apa filmnya? Sabar dulu ya, karena film ini masih dalam tahap editing. Simak dulu teaser film ini untuk tahu seindah apa kisah persahabatan ini.

Pre-Order Kaos IDCC Kloter 1 Dibuka

kaos-IDCC-motees

Order kaosnya dan ikut mewujudkan program Rumah Inklusi (IDCC).

Sebuah kolaborasi antara Motees dan Indonesia Disable Care Community (IDCC) bertekad mewujudkan rumah inklusi untuk mempersiapkan disabilitas yang sukses dan mandiri.

Apa itu rumah inklusi?
Rumah inklusi adalah rumah belajar yang mengusung konsep inklusif. Di rumah ini, mereka dapat tinggal selama kurun waktu tertentu untuk belajar internet marketing dan juga ilmu dasar lainnya seperti bahasa inggris, public speaking dan desain grafis. Sehingga sekembalinya dari rumah tersebut, mereka diharapkan mampu menyebarluaskan semangat dan ilmu yang mereka dapat.

Rumah belajar ini mengusung konsep inklusif, yang artinya rumah ini dirancang agar bisa digunakan oleh siapapun dari latar belakang pendidikan, agama maupun daerah manapun. Fasilitas yang disediakan pun akan mampu menunjang mobilitas penyandang berbagai jenis disabilitas. Masyarakat nonpenyandang disabilitas juga diperbolehkan untuk belajar di sini, asalkan mereka berkomitmen untuk membagi ilmunya kepada penyandang disabilitas di daerahnya sepulang dari rumah belajar ini.

Dengan demikian, diharapkan akan semakin banyak pihak yang mendapat manfaat dari keberadaan rumah ini. Selain itu, tujuan utama untuk penyediaan lapangan kerja alternatif bagi penyandang disabilitas dapat tercapai sehingga kelak, tak akan ada lagi stigma negatif di masyarakat bahwa penyandang disabilitas tidak mampu bekerja dan memliki masa depan cerah

Tujuan dari program ini adalah:

  1. Memberdayakan penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Indonesia agar mampu hidup mandiri, melalui penyediaan lapangan kerja alternatif.
  2. Memberikan keterampilan kepada penyandang disabilitas untuk menguasai pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi, khususnya Internet Marketing
  3. Mengubah perspektif masyarakat terhadap penyandang disabilitas, bahwa mereka juga mampu bekerja dan memiliki masa depan cerah.
  4. Mempercepat tercapainya masyarakat inklusif di Indonesia.

Nah, bagaimana teman-teman? Dengan memesan kaos ini berarti teman-teman ikut membantu terwujudnya Rumah Inklusi. Karena keuntungan akan kami alokasikan untuk mewujudkan Rumah Inklusi.

Ketentuan Pre-Order :

  1. Masa Pre-Order 25 Agustus – 7 September 2014 ( DP 50% )
  2. Waktu produksi 8 September – 21 September 2014
  3. Pelunasan 22 September 2014
  4. Pengiriman mulai 23 September 2014

Spesifikasi T-Shirt :

  1. Bahan katun combed
  2. Warna hitam
  3. Ukuran S – XXL
  4. Tersedia lengan pendek dan lengan panjang

Format PO : nama_alamat_ukuran_#sahabatinklusi dan menyertakan bukti transfer dan dikirim ke PIN 753FDF6E atau WA 081346615178
Transfer : BCA Nomor Rekening 2000383727 a/n Rizky Priyo Utomo

Harga T-Shirt lengan pendek Rp 120.000,- dan lengan panjang Rp 125.000,-. Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim.