Launching Rumah Belajar Inklusif IDCC

10858515_10152580246130954_1368839886992100043_n

Bulan Desember merupakan bulan istimewa bagi para pemerhati isu disabilitas, termasuk IDCC. Setiap tanggal 3 Desember, masyarakat di seluruh dunia memperingati Hari Internasional Penyandang Disabilitas. Selain itu, di bulan Desember ini juga merupakan peringatan tiga tahun IDCC didirikan. So, IDCC tidak ingin ketinggalan meramaikan bulan ini, tidak hanya dengan perayaan seremonial tapi juga dengan peluncuran sebuah program baru. Apa itu?

Tahun ini PBB mengambil tema Hari Disabilitas “Sustainable development: The promise of technology”. Tema ini sangat sejalan dengan misi IDCC untuk menghilangkan hambatan (barriers) bagi penyandang disabilitas untuk berkarya, salah satunya dengan teknologi. Bagai pucuk dicinta, ulam pun tiba, Indosat sebagai sebuah provider telekomunikasi juga memiliki misi yang serupa. Maka jadilah kerja sama itu terjalin dan Alhamdulillah, pada tanggal 13 Desember 2014 program Rumah Belajar Inklusif pun resmi diluncurkan.

10628503_10152580246235954_3051371404350075463_n 10846340_10152580245910954_3649667712341677783_n 10858464_10152580246005954_8183955571995368112_n

Rumah Belajar Inklusif merupakan sebuah program dimana kami akan mengadakan kelas-kelas secara rutin untuk membahas pemanfaatan teknologi untuk mendorong kemandirian masyarakat. Karena bersifat inklusif, maka penyandang maupun nonpenyandang disabilitas dapat bergabung sebagai peserta dan pembicara.

Acara peluncuran tersebut juga menjadi penanda dimulainya kelas pertama. Berlokasi di Kantor International Award for Young People (IAYP), sebanyak 30 peserta hadir mengikuti kelas “Facebook for Marketing” yang diisi oleh Dimas P. Muharram (co-founder Kartunet) dan Habibie Afsyah yang memberi trik-trik dan kunci utama dalam berwirausaha.

“Modal utama pebisnis sebenarnya bukanlah uang, tapi nama baik, relasi dan ilmu berbisnis. Ketika semua itu sudah dimiliki, maka produk apapun akan bisa dipasarkan. Terlebih didukung dengan marketing yang jitu,” tutur Habibie, pemilik brand Mbah Sukun, snack renyah dari sukun yang dipasarkan melalui media online.

Sesuai tagline-nya, “Learning inclusively; sharing continuously”, program ini dirancang untuk menjadi program yang berkelanjutan. Nantinya, peserta yang sudah mengikuti kelas-kelas ini juga diharapkan  bisa menjadi entrepreneur yang bisa membagi ilmunya, salah satunya dengan menjadi pembicara di program sesi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *