Masyarakat Inklusif Bukanlah Impian Belaka: Catatan dari Pameran Potret Dunia Inklusif

 

Untuk merayakan Hari Disabilitas Internasional tahun ini, Indonesia Disabled Care Community (IDCC) mengadakan rangkaian acara “Potret Dunia Inklusif”. Topik acara ini dipilih menyesuaikan dengan tema HDI dari PBB, yaitu “Inclusion matters: Access and empowerment for people of all abilities”.
 
Sebagai rangkaian awal dari keseluruhan program, IDCC mengadakan lomba lukis dan foto “Potret Dunia Inklusif” yang bertema “Antara Realita dan Harapan”, yang pemenangnya bisa dilihat di berita ini. Kemudian, karya para peserta pun dipamerkan dalam acara puncaknya, yaitu “Pameran Potret Dunia Inklusif”. Pameran ini diadakan di gedung sponsor kami, yaitu di Kantor Pusat PT Indosat Ooredoo, pada hari Sabtu 19 Desember 2015. 
 
Ketika pertama kali menginjak lantai 25 gedung Indosat, pengunjung—yang datang dari berbagai komunitas dan daerah—langsung disambut dengan deretan foto dan lukisan keren yang dikirim para peserta lomba. Puas melihat-lihat, pengunjung pun diajak panitia ke dalam aula di lantai tersebut. 
 
IMG_8861IMG_0972
 
Pukul 10.30, MC pun membuka acara dengan ice-breaking lalu mempersilakan Ibu Endang Setyati, selaku Pembina IDCC untuk memberi sambutan, dilanjutkan sambutan dari perwakilan direksi Indosat Ooredoo, Bapak Yuana Kusuma. Berbagai kegiatan terus bergulir mengisi rangkaian acara Pameran ini seperti Talkshow ‘’Sudah Inklusifkah Indonesia?’’ bersama Sapto Nugroho (pendiri Sekolah Ideologi Kenormalan Semarang) dan Galuh Sukmara Soejanto (pendiri The Little Hijabi Homeschooling, Bekasi). Kedua pembicara talkshow adalah orang yang berkecimpung di dunia pendidikan inklusif dan advokasi hak-hak disabilitas. 
 
 
Apakah arti inklusif sebenarnya? Apakah Indonesia sudah bisa disebut inklusif?  Pertanyaan-pertanyaan inilah yang diketengahkan dalam Sesi talkshow. Pada dasarnya, masyarakat inklusif adalah  masyarakat yang terbuka dan menerima semua orang dengan beragam latar belakangnya. Semua orang, termasuk penyandang disabilitas, dihargai dan tetap mendapatkan hak-hak asasinya. 
 
Sapto Nugroho menyebutkan, “Sejak kita lahir hingga masa kanak-kanak, pikiran kita belum mengotak-kotakkan manusia jadi golongan tertentu. Justru orang dewasalah yang mulai menanamkan pola pikir yang membeda-bedakan.”
IMG_8792
 
Karena itulah, beliau mendirikan Sekolah Ideologi Kenormalan di Solo. “Sekolah” yang berbentuk seperti kelas/seminar intensif tersebut mencoba mengembalikan pola pikir kita tentang kenormalan. Pada dasarnya, manusia memiliki tiga unsur, yaitu jiwa, raga dan roh. Hanya ketika unsur-unsur ini tidak ada, manusia bisa dikatakan tidak normal. Selebihnya maka semua orang adalah normal, tanpa ada golongan minoritas dan mayoritas. 
 
Sementara itu, Galuh Sukmara juga mengubah pemikiran masyarakat dengan mendirikan The Little Hijabi Homeschooling di Bekasi. Beliau bercerita bahwa awalnya masyarakat di sekitar lokasi sekolah kaget mendapati ada sekolah untuk anak-anak disabilitas, bahkan sebagian gurunya juga tuli. Namun dengan pendekatan kepada orang tua dan masyarakat sekitar, lambat laun masyarakat pun menerima. Bahkan beliau dan timnya mengembangkan berbagai teknologi sebagai solusi dalam keterbatasan komunikasi, misalnya video adzan dengan bahasa isyarat, termasuk kisah-kisah teladan dan doa. 
 
Jadi, menurut mbak Galuh, masyarakat Indonesia sangat mungkin menjadi inklusif karena sejak zaman kerajaan Majapahit dan walisongo, konsep-konsep inklusif sudah diterapkan. Contoh kecilnya adalah bentuk visualisasi Punakawan yang terdiri dari fisik yang bermacam-macam.
Pak Sapto pun menambahkan bahwa untuk menjadi inklusif, masing-masing dari kita harus berkontribusi sesuai kapasitasnya, misalnya dengan mulai mengubah paradigma kita tentang inklusi dan disabilitas, ataupun dengan mengusulkan kepada pengelola sebuah gedung jika tidak aksesibel untuk semua.
 
 
Selain talkshow, acara diselingi berbagai hiburan, seperti Sit-down comedy oleh Habibie Afsyah, penampilan band akustik dari Sekolah Khusus Spektrum dan Live Painting oleh Rodhi Mahfur (Art Rodhi). Penampilan mereka kembali menegaskan bahwa disabilitas tidak menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Mereka tetap bekerja, sekolah, dan membawa nama harum Indonesia ke mancanegara. 
 
Aksi "Live Painting" oleh Art Rodhi

                      Aksi “Live Painting” oleh Art Rodhi

Sembari menunggu hasil live painting, peserta mengikuti sesi bedah buku ‘’Anakku CdLS’’ bersama Koko Prabu. Beliau seorang ayah yang membesarkan anaknya yang menyandang CdLS (Cornelia de Lange Syndrome).
IMG_1418
Bapak yang berdomisili di Solo ini menyampaikan bahwa CdLS terjadi bukan karena faktor keturunan namun adanya mutasi kromosom spontan pada saat proses pembuahan. Menurut penjelasan Koko Prabu, setidaknya ada dua puluh ciri-ciri anak penyandang CdLS yaitu berat badan kecil, pertumbuhan lambat, dan ukuran kepala yang kecil (mikrosefalus), alis yang lebat dan menyambung, hidung yang mendongak dan gangguan pada saluran pencernaan. Banyak usaha yang dilakukan oleh Koko Prabu untuk membangun kepercayaan diri anaknya (yang akrab disapa Oyik), seperti mengikuti berbagai terapi untuk perkembangan motorik dan mempertemukannya dengan banyak orang untuk memberi semangat. Kini Oyik telah menginjak usia 15 tahun. Beliau percaya suatu hari nanti anaknya akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri dengan segala apa yang dia miliki sekarang. Untuk mengetahui kisah Koko Prabu dan keluarganya lebih dalam, silakan membeli buku ‘’Anakku CdLS’’ yang dapat diperoleh di berbagai toko buku, termasuk Gramedia.
 
Rangkaian acara hari itu ditutup dengan pembagian doorprize serta pemberian kejutan kecil untuk pembina IDCC, Bu Endang yang baru saja berulang tahun yang ke-65. Kue sederhana ini juga sebagai wujud syukur empat tahun didirikannya IDCC.
 
IMG_1470 IMG_1467
IMG-20151219-WA0020
Acara ini mendapat sambutan antusias dari para pengunjung. Bahkan direksi Indosat juga mengusulkan agar acara semacam ini diadakan lagi dengan lingkup yang lebih luas. Tentunya, kami juga berharap, ke depan, akan semakin banyak pihak yang saling bekerja sama untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat Indonesia yang inklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *