Lomba “Potret Dunia Inklusif”

Disabilitas tercipta karena adanya hambatan dari dalam diri dan lingkungan sekitar. Namun ketika hambatan itu dihilangkan, maka leburlah sekat disabilitas dan nondisabilitas. Itulah dunia inklusif yang kita dambakan.

Indonesia Disabled Care Community (IDCC) mengajak Anda untuk menuangkan ide & harapan akan dunia inklusif dalam bentuk gambar dan foto, melalui lomba “POTRET DUNIA INKLUSIF”. Lomba ini bertema “Antara Realita dan Harapan”.

poster PDI update

Petunjuk Teknis, Syarat dan Ketentuan Lomba:

Ketentuan Umum:

  1. Ada dua jenis lomba dalam “POTRET DUNIA INKLUSIF”, yaitu lomba melukis  dan fotografi.

  2. Keikutsertaan dalam lomba melukis dan fotografi ini GRATIS (tidak dipungut biaya).

  3. Seluruh Karya yang diikutsertakan lomba merupakan karya sendiri.

  4. Karya belum pernah dimuat di media massa dan belum pernah menang dalam perlombaan manapun.

  5. Setiap peserta lomba boleh mengirimkan 1-5 hasil karya terbaiknya.

  6. Periode lomba dari 1 November – 1 Desember 2015. Karya diterima panitia via pos paling lambat tanggal 2 Desember 2015 (bukan tanggal cap pos).

  7. Dewan Juri terdiri dari pelukis senior dan fotografer professional yang pernah memperoleh penghargaan dan memiliki kompetensi dibidangnya, pemerhati seni dan aktivis di bidang disabilitas.

  8. Pengumuman pemenang lomba melukis dilaksanakan pada 10 Desember  2015 melalui media-media sosial IDCC. Pemenang juga akan dihubungi melalui ponsel. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

  9. Hak cipta melekat pada peserta, namun IDCC diberikan hak/izin untuk mempublikasikan foto yang masuk nominasi untuk kepentingan non-komersial dalam rangka kampanye kesetaraan penyandang disabilitas atau sejenisnya. Panitia dibebaskan dari tuntutan pihak ketiga bila foto digunakan untuk keperluan tersebut.

 

Ketentuan Khusus:

  1. Peserta untuk lomba melukis dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan usia:

Kategori

Rentang Usia

Anak-anak

7 – 10

Remaja

11 – 17

Dewasa

  1. – tak terbatas

Sedangkan untuk lomba fotografi dibagi menjadi dua kategori yaitu:

Kategori

Rentang Usia

Remaja

11 – 17

Dewasa

18 – tak terbatas

 

        Untuk membantu peserta kategori anak-anak dan remaja, pendidik atau orang dewasa di sekitarnya bisa membantu memberi penjelasan dengan melihat panduan yang bisa diunduh di tautan ini.

  1. Tema lomba ini yaitu “Antara Realita dan Harapan”. Tema ini diterjemahkan menjadi beberapa topik yang bisa dipilih oleh peserta:

  • Penyediaan akses untuk penyandang disabilitas dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, kesehatan dan keterlibatan dalam kehidupan sosial

  • Kerja sama yang dilakukan oleh penyandang dan nonpenyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari

  • Pemberdayaan yang diberikan kepada penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan dan penghidupan yang layak

  • Prediksi dan harapan mengenai kehidupan masyarakat inklusif di masa mendatang.

  • Topik lain yang masih sesuai dengan tema.

 

  1. Untuk lomba melukis: Karya harus dibuat secara manual dengan media kertas A3, menggunakan pensil warna, krayon, cat air dan/atau media pewarnaan lainnya. tanpa perubahan/bantuan digital. Gambar bisa dikirim via email dalam bentuk lukisan yang sudah di-scan (disimpan dalam format JPG) atau dikirim via pos.

 

  1.  Untuk lomba foto:

  • Tidak ada batasan waktu pengambilan foto.

  • Media pengambilan gambar bisa memakai kamera ponsel, kamera saku ataupun kamera digital.

  • Tidak diperkenankan menambahkan bingkai/latar belakang/tulisan (watermark) dalam bentuk apapun.

  • Koreksi yang diperbolehkan hanyalah penyuntingan minor, seperti cropping, koreksi brightness/contrast dan koreksi warna. Foto dengan unsur olah digital (seperti kolase/ montase) atau rekayasa olah digital tidak diterima.

  • Foto bisa dikirim via email dalam bentuk file JPG atau dikirim via pos dengan dicetak memakai kertas doff atau glosi ukuran 17R (30x40cm) atau 17RS Plus (30x45cm).

  1. Seluruh Karya (baik lukisan/foto) wajib dilampiri  keterangan yang mengandung 5W+1H (Who, What, Where, When, Why dan How), berikut judul Karya, nama peserta serta media/institusi anda. Cantumkan pula data diri, alamat email dan nomor ponsel anda.

  2. Peserta wajib menyertakan fotokopi identitas diri (KTP/SIM/Kartu Pelajar/Mahasiswa) dan pas foto terbaru ukuran 4×6 cm. Bila syarat point 5-6 ini tidak disertakan, maka Karya yang terkirim akan didiskualifikasi.

  3. Hasil karya beserta keterangan, data diri dan salinan identitas diri bisa dikirimkan via email ke idcc@live.com (dengan subjek “Potret Dunia Inklusif_Nama Peserta) atau via pos ke alamat: Jalan Sumbangsih V No. 3 RT 06 RW 01 Kel. Karet – Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan (12920).

  4. Saat mengirim dengan jasa pos, gunakan media pelindung foto/lukisan yang baik, sehingga Karya tidak terlipat atau tidak mudah rusak sesampai di tangan panitia.

“Income from Instagram”, Kelas Kedua Rumah Belajar Inklusif

Kelas “Rumah Belajar Inklusif” kembali digelar. Setelah mengeksplor pemanfaatan Facebook untuk media marketing, kali ini kami menggali trik untuk memasarkan produk lewat Instagram.

Kelas kedua yang dilaksanakan tanggal 8 Maret 2015 di Kantor International Award for Young People (IAYP) ini menghadirkan narasumber Bang Irfan Arfiady dan istrinya, Vina Yastio, pasangan pemilik akun Instagram @namazakids, @blackchemistrycoffe dan @warungmbahsukun. Khusus akun ketiga, @warungmbahsukun memang dimanfaatkannya untuk memasarkan stick renyah Mbah Sukun. Dengan Instagram, Bang Irfan menjadi salah satu Kuncen—sebutan untuk agen—Mbah Sukun yang paling sering kebanjiran order.

Kenapa Instagram menjadi media pilihan Bang Irfan? Fans band Dream Theater ini pun menjawab, “Konsumen cenderung melihat gambar ketimbang tulisan ketika melihat iklan. Instagram ini aplikasi yang sangat cocok karena lebih menonjolkan gambar. Apalagi, fitur-fitur IG (Instagram) memungkinkan untuk menyaring targeted buyer.”

20150308_14233420150308_113034 20150308_111913

Setelah mengulik trik-trik pemanfaatan IG untuk marketing, peserta juga belajar trik-trik melipatgandakan keuntungan dari Suwandi Chow, seorang pakar internet marketing tersohor. “Agar konsumen beli [produk Anda—red], mereka harus percaya. Agar percaya, mereka harus suka. Agar suka, harus dimulai dari kenal. Media-media sosial dan internet bisa membantu mempercepat proses panjang itu, jika kita mampu mengoptimalkannya,” bebernya. Tak hanya membagi ilmu, Pak Suwandi juga memberi kejutan dengan membagikan buku karyanya gratis kepada seluruh peserta yang hadir. Peserta pun semakin semangat belajar meskipun di luar, hujan deras mengguyur sepanjang hari.

Program Rumah Belajar Inklusif ini merupakan program rutin dari IDCC yang memberikan kesempatan kepada penyandang maupun nonpenyandang disabilitas untuk belajar pemanfaatan teknologi untuk berkarya. Program ini disponsori oleh Indosat dan didukung oleh IAYP.

Launching Rumah Belajar Inklusif IDCC

10858515_10152580246130954_1368839886992100043_n

Bulan Desember merupakan bulan istimewa bagi para pemerhati isu disabilitas, termasuk IDCC. Setiap tanggal 3 Desember, masyarakat di seluruh dunia memperingati Hari Internasional Penyandang Disabilitas. Selain itu, di bulan Desember ini juga merupakan peringatan tiga tahun IDCC didirikan. So, IDCC tidak ingin ketinggalan meramaikan bulan ini, tidak hanya dengan perayaan seremonial tapi juga dengan peluncuran sebuah program baru. Apa itu?

Tahun ini PBB mengambil tema Hari Disabilitas “Sustainable development: The promise of technology”. Tema ini sangat sejalan dengan misi IDCC untuk menghilangkan hambatan (barriers) bagi penyandang disabilitas untuk berkarya, salah satunya dengan teknologi. Bagai pucuk dicinta, ulam pun tiba, Indosat sebagai sebuah provider telekomunikasi juga memiliki misi yang serupa. Maka jadilah kerja sama itu terjalin dan Alhamdulillah, pada tanggal 13 Desember 2014 program Rumah Belajar Inklusif pun resmi diluncurkan.

10628503_10152580246235954_3051371404350075463_n 10846340_10152580245910954_3649667712341677783_n 10858464_10152580246005954_8183955571995368112_n

Rumah Belajar Inklusif merupakan sebuah program dimana kami akan mengadakan kelas-kelas secara rutin untuk membahas pemanfaatan teknologi untuk mendorong kemandirian masyarakat. Karena bersifat inklusif, maka penyandang maupun nonpenyandang disabilitas dapat bergabung sebagai peserta dan pembicara.

Acara peluncuran tersebut juga menjadi penanda dimulainya kelas pertama. Berlokasi di Kantor International Award for Young People (IAYP), sebanyak 30 peserta hadir mengikuti kelas “Facebook for Marketing” yang diisi oleh Dimas P. Muharram (co-founder Kartunet) dan Habibie Afsyah yang memberi trik-trik dan kunci utama dalam berwirausaha.

“Modal utama pebisnis sebenarnya bukanlah uang, tapi nama baik, relasi dan ilmu berbisnis. Ketika semua itu sudah dimiliki, maka produk apapun akan bisa dipasarkan. Terlebih didukung dengan marketing yang jitu,” tutur Habibie, pemilik brand Mbah Sukun, snack renyah dari sukun yang dipasarkan melalui media online.

Sesuai tagline-nya, “Learning inclusively; sharing continuously”, program ini dirancang untuk menjadi program yang berkelanjutan. Nantinya, peserta yang sudah mengikuti kelas-kelas ini juga diharapkan  bisa menjadi entrepreneur yang bisa membagi ilmunya, salah satunya dengan menjadi pembicara di program sesi berikutnya.

“Feeling”, Ketika Disabilitas Menyatukan Persahabatan

Ketika ketulusan menjadi landasan sebuah persahabatan, maka tak ada yang bisa menghalangi dua insan untuk menjalin kisah indah persahabatan, termasuk kendala bahasa. Setidaknya itulah storyline dari film “Feeling”.

Film yang diproduksi “Pilot Management” dari Jogja ini mengangkat kisah persahabatan antara seorang penyandang tuna netra dan tuna rungu yang sekaligus tuna wicara. Ide cerita ini terbilang baru karena belum pernah diangkat sebelumnya, dan sama sekali tidak ada unsur kesedihan atau memperlihatkan belas kasihan dari penonton.

Cerita ini akan digarap dalam durasi 3-5 menit, dengan memperlihatkan secara riil bagaimana dua orang dengan keterbatasan masing-masing—yang secara lahiriah tentu sangat sulit untuk bisa saling berkomunikasi, lebih-lebih menjadi seorang sahabat karib, namun dengan bahasa mereka sendiri, dengan pengertian dari perasaan mereka sendiri, mereka dapat mengerti kata-kata sahabatnya. Mereka bertukar cerita, bertukar perasaan, dan saling memberi harapan tanpa kata-bahasa yang sesungguhnya. Mereka mengunakan bahasa mereka sendiri, bahasa perasaan.

“Dengan film ini, kami berharap difabel bisa mendapatkan hak-hak mereka, pendidikan yang layak, hak-hak kehidupan sosial yang sama, infrastruktur yang bersahabat, struktur masyarakat yang bersahabat, sehingga kelak mereka dapat mengangkat harkat kehidupan mereka,” harap Alif Mahmudi, produser film ini.

Penasaran seperti apa filmnya? Sabar dulu ya, karena film ini masih dalam tahap editing. Simak dulu teaser film ini untuk tahu seindah apa kisah persahabatan ini.

Salurkan Kreativitasmu Bersama IWIC 2014

iwic 2014

Sudah tahu apa itu IWIC? IWIC (Indosat Wireless Innovation Contest) adalah ajang kompetisi inovasi teknologi  bergengsi yang dapat diadopsi oleh perangkat mobile dunia seperti Android, iOS, Blackberry, feature Phone dan Windors Phone. IWIC adalah salah satu program CSR (Corporate Social Responsibility) yang diselenggarakan Indosat setiap tahun. Dan tahun ini sudah masuk pada IWIC yang ke-8. IWIC memacu kreativitas anak muda melalui kompetisi teknologi bergengsi yang ditujukan kepada semua peserta dari Indonesia yang tidak dibatasi usia maupun pendidikan. Asalkan mereka memiliki ide brilian yang patut dikompetisikan, kenapa tidak?

Ada dua jenis kategori proposal yang dilombakan, yakni proposal ide dan proposal prototype. Proposal ide adalah proposal ide baru yang belum memiliki prototype terimplementasi dan terdapat tiga kategori untuk proposal ini, antara lain lifestyles, multimedia, utilities, dan inovasi untuk difabel (orang berkebutuhan khusus). Sedangkan proposal yang kedua adalah proposal ide yang sudah memiliki aplikasi atau protorype yang terimplementasi dengan kategori lifestyle, multimedia, dan utilities. Untuk proposal yang kedua, Anda harus mencantumkan prototipe aplikasi yang Anda tawarkan dan mengirimkannya bersama proposal Anda.  Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu ide proposal, ketika proposal ide Anda sudah masuk pada Indosat maka ada beberapa tahap proses penyeleksian hasil karya peserta. Karya yang dikirim harus unik dan menarik. Setelah disubmit ke IWIC, Indosat akan memprosesnya selama tiga bulan, apabila tiga bulan tidak ada respon maka peserta diperbolehkan menawarkan ide proposalnya kepada pihak lain dengan seijin Indosat. Anda dapat mengunduh syarat dan ketentuan peserta lomba, serta format ide proposal IWIC 2014 pada official website kami di iwic.indosat.com.

Tidak perlu menunda lagi untuk berkreasi bersama IWIC yang sudah menawarkan kesempatan emas bagi Anda yang memiliki talenta di bidang teknologi. Daftarkan diri Anda segera dan submit proposal Anda sebelum 30 September 2014. Anda juga bisa memeriksa jadwal roadshow IWIC 2014 di beberapa kota dan universitas di Indonesia. Kirimkan segera hasil karya Anda, karena 100 pengirim ide inovasi pertama memiliki kesempatan untuk mendapat hadiah iPad Mini dan voucher pulsa dari Indosat.

Pre-Order Kaos IDCC Kloter 1 Dibuka

kaos-IDCC-motees

Order kaosnya dan ikut mewujudkan program Rumah Inklusi (IDCC).

Sebuah kolaborasi antara Motees dan Indonesia Disable Care Community (IDCC) bertekad mewujudkan rumah inklusi untuk mempersiapkan disabilitas yang sukses dan mandiri.

Apa itu rumah inklusi?
Rumah inklusi adalah rumah belajar yang mengusung konsep inklusif. Di rumah ini, mereka dapat tinggal selama kurun waktu tertentu untuk belajar internet marketing dan juga ilmu dasar lainnya seperti bahasa inggris, public speaking dan desain grafis. Sehingga sekembalinya dari rumah tersebut, mereka diharapkan mampu menyebarluaskan semangat dan ilmu yang mereka dapat.

Rumah belajar ini mengusung konsep inklusif, yang artinya rumah ini dirancang agar bisa digunakan oleh siapapun dari latar belakang pendidikan, agama maupun daerah manapun. Fasilitas yang disediakan pun akan mampu menunjang mobilitas penyandang berbagai jenis disabilitas. Masyarakat nonpenyandang disabilitas juga diperbolehkan untuk belajar di sini, asalkan mereka berkomitmen untuk membagi ilmunya kepada penyandang disabilitas di daerahnya sepulang dari rumah belajar ini.

Dengan demikian, diharapkan akan semakin banyak pihak yang mendapat manfaat dari keberadaan rumah ini. Selain itu, tujuan utama untuk penyediaan lapangan kerja alternatif bagi penyandang disabilitas dapat tercapai sehingga kelak, tak akan ada lagi stigma negatif di masyarakat bahwa penyandang disabilitas tidak mampu bekerja dan memliki masa depan cerah

Tujuan dari program ini adalah:

  1. Memberdayakan penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Indonesia agar mampu hidup mandiri, melalui penyediaan lapangan kerja alternatif.
  2. Memberikan keterampilan kepada penyandang disabilitas untuk menguasai pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi, khususnya Internet Marketing
  3. Mengubah perspektif masyarakat terhadap penyandang disabilitas, bahwa mereka juga mampu bekerja dan memiliki masa depan cerah.
  4. Mempercepat tercapainya masyarakat inklusif di Indonesia.

Nah, bagaimana teman-teman? Dengan memesan kaos ini berarti teman-teman ikut membantu terwujudnya Rumah Inklusi. Karena keuntungan akan kami alokasikan untuk mewujudkan Rumah Inklusi.

Ketentuan Pre-Order :

  1. Masa Pre-Order 25 Agustus – 7 September 2014 ( DP 50% )
  2. Waktu produksi 8 September – 21 September 2014
  3. Pelunasan 22 September 2014
  4. Pengiriman mulai 23 September 2014

Spesifikasi T-Shirt :

  1. Bahan katun combed
  2. Warna hitam
  3. Ukuran S – XXL
  4. Tersedia lengan pendek dan lengan panjang

Format PO : nama_alamat_ukuran_#sahabatinklusi dan menyertakan bukti transfer dan dikirim ke PIN 753FDF6E atau WA 081346615178
Transfer : BCA Nomor Rekening 2000383727 a/n Rizky Priyo Utomo

Harga T-Shirt lengan pendek Rp 120.000,- dan lengan panjang Rp 125.000,-. Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim.

Undangan Buka Puasa Bersama IDCC

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa, yang telah memberi kita kesempatan berjumpa dengan bulan Ramadhan di tahun ini. Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas pribadi dan juga masyarakat. Indonesian Disabled Care Community (IDCC) menggunakan momentum ini untuk melakukan upaya kampanye kreatif untuk mempercepat terciptanya masyarakat inklusif, melalui acara buka bersama yang dikemas dalam nuansa berbeda.

Karena itu, kami mengundang teman-teman semua untuk menghadiri acara yang bertajuk “Inclusive Fellowship”, di mana kami akan mengajak para peserta yang terdiri dari penyandang dan nonpenyandang disabilitas untuk membangun hubungan persaudaraan. Acara ini insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari, tanggal                : Minggu, 13 Juli 2014
Pukul                           : 15.00 s.d. 18.30 WIB
Tempat                        : Kantor Kowani (Kongres Wanita Indonesia) Jalan Imam Bonjol,  no. 58, Menteng, Jakarta Pusat (seberang KPU)
RSVP                          : Fransiska Indah Kristiani  (fransiska.kristiani@sampoernaeducation.net) Handphone 0838.99.123.524

Kami sangat mengharapkan kehadiran teman-teman untuk hadir  di acara tersebut. Atas perhatian dan kehadiran teman-teman, kami ucapkan terima kasih.

ICT for Disabled: Solusi Produktivitas Penyandang Disabilitas

Percaya atau tidak, sebagian besar masyarakat Indonesia , bahkan para petinggi dan pejabat pemerintahan, masih melihat penyandang disabilitas sebagai orang yang tidak bisa apa-apa. Jangankan produktif, keluar rumah saja sulit. Jangankan memanfaatkan teknologi, kenal juga nggak. Benarkah begitu?

Salah besar! Jawaban itu saya dapat dari acara talkshow “ICT for Disabled”, Sabtu (7/6) di gedung Indosat. Bahkan Ibu Dewi Motik Pramono, ketua KOWANI dalam sambutannya di acara ini berani mengatakan bahwa beberapa penyandang disabilitas yang punya keterbatasan, justru lebih mampu memanfaatkan ICT/TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi. “Di saat masyarakat Indonesia lebih banyak memakai teknologi untuk galau dan narsis, ada orang-orang hebat yang bisa kita contoh. Mereka adalah orang-orang yang ada di panggung ini. Mari kita beri tepuk tangan kepada mereka!”

Siapa sajakah mereka?

ict for disabled

Yang pertama adalah Prof Irwanto, guru besar Unika Atma Jaya yang aktif di Puska Disabilitas UI. Sebagai pembicara pertama, beliau menjembatani pemahaman tentang disabilitas dan hubungannya dengan TIK, “Selama ini, penyandang disabilitas tidak diberi kesempatan untuk mendefinisikan dirinya; definisi mereka lebih ditentukan oleh orang sekitarnya, sehingga muncullah kata cacat, idiot, yang lebih fokus ke disabilitas seseorang. Padahal ketika difasilitasi, disabilitas itu tidak menjadi hambatan lagi. Contohnya, ketika orang yang punya low vision diberi kacamata, hilanglah disabilitasnya, bahkan Stephen Hawking yang tidak bisa bicara bisa menjadi professor tertinggi di Oxford University karena dia difasilitasi teknologi yang memungkinkan dia berbagi hasil pemikirannya yang jenius.”

“Artinya, mari kita lebih fokus ke abilitas mereka, dan fasilitasi kemampuan mereka tersebut. Bukan sebaliknya, menjadikan ketidakmampuan mereka sebagai penghalang untuk memberikan mereka akses pendidikan, pekerjaan dan lain-lainnya.”

Dimas Prasetyo, blogger yang jadi co-founder Karya Tunanetra (Kartunet) dan Habibie Afsyah (Indonesia Disabled Care Community–IDCC) memberi contoh nyata bagaimana teknologi membantu mereka menjadi manusia produktif. Dimas misalnya, dia menggunakan software-software screen reader di HP dan laptopnya sehingga dia bisa menikmati informasi-informasi terkini dan juga menulis. Bahkan saya yakin, sebagian besar dari kita masih kalah dari Dimas dalam frekuensi menulis, hehe.

Habibie, berbagi cerita kalau teknologi memungkinkan dirinya untuk mengatasi berbagai kendala dalam bekerja, “Kalau penyandang disabilitas ingin kerja kan kendalanya banyak, seperti mobilitas, kemacetan (berat di ongkos), dan perangkat2 kerja yang belum disesuaikan dengan kemampuan pendis. Jadi pada akhirnya, banyak yang memilih pekerjaan alternatif, yang tidak membutuhkan banyak mobilitas, bisa dilakukan di rumah, tapi tetap menghasilkan uang, seperti saya yang memilih internet marketing.”

Sama halnya dengan Chairunnisa, gadis penyandang tunarungu yang juga menjadi pengurus yayasan Sehat Jiwa Raga (Sehjira). “Menjadi tuli bukan berarti saya nggak bisa komunikasi. Saya sering video call sama sesama tuli, kadang kita pake bahasa isyarat, kadang juga pake tulisan. Banyak kok teknologi yang bisa membantu tuli untuk hidup mandiri, sms/whatsapp, eletypewriter, atau alarm/bel yang dihubungkan dengan getaran pada perangkat pasangannya, jadi kita bisa tahu kalau ada yang ketok rumah.”

Narasumber lainnya, Tante Christie Damayanti, menceritakan kisahnya ketika diuji sakit stroke, “Saya cuma memberi waktu 10 menitan bagi diri saya untuk bersedih. Selebihnya saya berpikir, saya harus menemukan cara biar bisa tetap produktif. Ternyata teknologi juga bisa membantu saya, bahkan sebagai terapi untuk sembuh dari stroke. Saya coba terapi menulis dan berkat teknologi, saya jadi lebih mudah membagi tulisan saya. Dari situ, saya jadi kenal dengan banyak orang, dan puji Tuhan, menginspirasi teman-teman lainnya.”

peserta ict for disabled

Acara yang digagas oleh IDKITA dan KOWANI, bekerja sama dengan IDCC, Kartunet, dan Sehijra itu dihadiri oleh seratus lebih pengusaha, staf Indosat, staf GNOTA, blogger serta mahasiswa dan pelajar. Bahkan ada peserta yang datang dari Semarang dan Bali. Dibuka dengan penampilan akustik dari teman-teman tunanetra anggota Kartunet, acara ini dikemas dengan seminar interaktif. Antusiasme peserta pun terlihat sepanjang  acara berlangsung, bahkan saat sesi tanya jawab moderator sampai harus membatasi jumlah penanya.

Sebagai penutup talkshow, Om Valentino sebagai moderator menyampaikan dengan tegas, “Teknologi bisa membantu penyandang disabilitas untuk maju dan berkembang. Tapi kemajuan dan harapan-harapan itu hanya bisa tercapai jika lembaga-lembaga dan komunitas disabilitas mau bersatu padu, berkolaborasi, seperti dalam acara ini. Bukannya bekerja masing-masing dan saling bersaing.” Setuju, Om! 🙂