Pentingnya dukungan Orang tua terhadap Penyandang Disabilitas

Oleh : Ayu Yuliyanti Purwandari

Pada tahun 2011 jumlah Penyandang Disabilitas telah mencapai angka 3,11 % dari seluruh penduduk Indonesia. Keberadaan mereka saat ini mulai mendapat sorotan oleh pemerintah maupun masyarakat, akan tetapi belum seutuhnya optimal. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih kurang mengetahui mengenai isu disabilitas. Banyak terjadi diskriminasi terhadap hak-hak para penyandang disabilitas, sehingga mereka sulit mengembangkan potensi yang dimiliki.


Perhatian dari orang sekitar khususnya sangat penting bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, terlepas dari keterbatasan yang ada dalam diri mereka. Manusia pada hakikatnya adalah mahkluk sosial yang terus membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya untuk berkembang. Baik pendis maupun nonpendis pun semuanya saling membutuhkan orang disampingnya untuk mendapatkan kekuatan ataupun energy positif.
Adanya kesuksesan dan kehebatan dari diri seseorang biasanya dipengaruhi oleh orang terdekat, ada sosok yang mendukung di belakangnya. Ada orang disekelilingnya yang selalu mendukung, yang mau untuk mengorbankan waktunya untuk dapat berbagi, mau membimbing secara moril sehingga perkembangan psikis dan juga kognitifnya dapat dikembangkan.

Keberhasilan Hellen Keller misalnya, dia adalah tokoh legendaris dari Tuscumbama, Alabama, Amerika Serikat (1880-1968). Keberhasilannya lulus dari Universitas dengan kondisi tidak bisa mendengar dan melihat merupakan sebuah hal yang sangat membanggakan. Setelah lulus, ia menjadi seorang guru. Cerita lainnya yakni keberhasilan Habibie Afsyah, seorang penyandang disabilitas daksa yang selalu mendapat dukungan dari Ibu tercinta yaitu Ibu Endang. Beliau rajin untuk mengantarkan Habibie menimba ilmu dan tidak segan-segan mengenalkan Habibie pada dunia marketing online.
Di atas adalah dua dari banyak cerita mengenai perkembangan pendis yang telah berhasil mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Tidaklah instan pastinya, butuh waktu untuk mengenal anak-anak penyandang Disabilitas itu sendiri. Orang yang pertama kali mengenal adalah pastinya orang tua si anak atau kerabat dekatnya. Dari sini, anak dapat berkembang dan mengembangkan potensi di dalam dirinya. Bukan sekedar merasa iba atau kasihan.

Anak dengan kebutuhan special ini, memang membutuhkan dukungan untuk dapat bersekolah dan berkembang. Cibiran atau Respon masyarakat yang negatif hanya akan menghambat proses belajar anak. Justru, membuka diri dengan kondisi anaknya dan mau mengajak anak untuk bergaul akan mempermudah anak untuk belajar bersosialisasi. Mengapa? Ya karena pendis pun akan hidup secara mandiri dengan melakuakan aktivitas apa yang ia mau dan tau alasan kuat melaksanakan aktivitas tersebut.

Oleh karena itu, pernan orang tua dan kerabat dekat akan memberikan efek perkembangan anak hingga dewasa nantinya. Seperti yang dijelaskan oleh Agung dalam blognya bahwa orang tua perlu mengetahui adanya informasi yang jelas dan menenangkan mengenai kondisi yang dialami oleh anaknya, Mulai dari pemberitahuan informasi sejak dini agar dapat membantu orang tua mendeteksi gejala fisik motorik anak. Selain itu juga cara pandang sangat berpengaruh, sikap positif perlu dibangun untuk dapat optimis mendukung tumbuh kembang anak serta menjauhkan dari asumsi mitos masyarakat. Setelah memiliki kedua modal tersebut, maka orang tua dapat memberikan wadah pengembangan bakat anak agar potensinya dapat muncul dan pastinya perlu adanya wadah orang tua untuk bisa sharing di dalam sebuah komunitas tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *