Goes to IPB

Apa hubungannya disabilitas, pertanian, dan mesin ATM? OK, ketiga kata itu memang kelihatannya nggak nyambung satu sama lain, tapi Auditorium Sylva Pertamina di fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menjadi saksi bagaimana kata-kata di atas dikombinasikan secara apik dalam acara bertajuk “IDCC & Artajasa Care for Disability Go to Campus”, Sabtu (22/2) silam.

Kalau kita menilik ‘definisi operasional’-nya (maklum, sisa-sisa Sindrom Skripsi masih tertinggal di otak, hehe), disabilitas (atau bahasa kunonya ‘kecacatan’) bisa diartikan sebagai konsekuensi dan hasil interaksi dari keterbatasan kemampuan seseorang dan lingkungannya yang bisa menghambat partisipasi individu tersebut di masyarakat. Nah, kalau ngomongin disabilitas, rasanya kurang afdol juga kalau nggak ngomongin Indonesia Disabled Care Community (IDCC). Komunitas peduli disabilitas yang memelopori kegiatan ini bekerjasama dengan PT. Artajasa, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang layanan transaksi elektronis seperti ATM, dan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB dalam penyelenggaraan program kampanye peduli disabilitas tersebut.

Acara yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa IPB dan karyawan PT Artajasa ini berhasil mengemas kegiatan “penyuluhan” kepedulian dengan semarak sehingga lebih bisa diterima. Peserta pun tampak antusias mengikuti tiga agenda utama acara, yaitu simulasi peran mengenai disabilitas dan lingkungannya; talkshow bertema “Break the Limit” dengan narasumber Angkie Yudhistia (penyandang tunarungu CEO Thisable Enterprise), M. Ikhwan Toriqo (Ketua komunitas Kartunet—Karya Tunanetra) dan Paramitha E. C. Hioe (pendiri Hioe Homeschooling for Special Needs Children); serta focus group discussion untuk mencari akar permasalahan disabilitas dan solusinya. Terlebih saat band Kartunet yang semua personelnya tunanetra tampil. Semua yang hadir—baik penyandang maupun nonpenyandang disabilitas berbaur dan berinteraksi selama acara. Saya yang hadir dan juga ikut “cawe-cawe” sebagai panitia melihat bagaimana sekat stigma yang biasanya melekat pada penyandang disabilitas sama sekali tidak terlihat di sini.

Memang, seperti yang disampaikan Habibie Afsyah, salah satu pengurus IDCC yang merupakan penyandang tunadaksa, “Tujuan dari acara ini untuk mencontohkan dan menguatkan sinergi dan kolaborasi antarpenyandang dan nonpenyandang disabilitas. Sepulang dari acara ini, semua pihak yang terlibat diharapkan bisa menyebarluaskan semangat pemberdayaan dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas kepada lingkungan sekitar mereka,”

Namun demikian, pemahaman dan kesadaran peserta terhadap dunia disabilitas diharapkan tidak berhenti selepas acara ini. Karena itulah, di segmen terakhir (focus group discussion) mereka diajak untuk membuat action plan untuk merealisasikan kepedulian tersebut. Inilah yang membedakan program ini dengan seminar dan penyuluhan, dimana aksi sosial yang mereka rencanakan akan dilaksanakan dan dipresentasikan dalam program lanjutan, yaitu National Conference on Disability Awareness di akhir November tahun ini.

1372176991791935930_300x201.40597539543

Alhamdulillah, hadirin yang datang dari berbagai latar belakang, termasuk Om Valen dan Pak Yamin dari Nawala Nusantara,

mengapresiasi kegiatan ini dengan positif, “Acara semacam ini sangat perlu diapresiasi dan direplikasi di tempat-tempat lain. Masyarakat, khususnya pemuda, perlu mendapat pemahaman yang lebih baik mengenai isu disabilitas agar mereka juga terlibat aktif dalam upaya terwujudnya masyarakat inklusif.”

IDCC, yang merupakan komuni

negara Indonesia bisa hidup berdampingan dalam harmoni. Selain melalui program “Wear-to-be-Aware” (kampanye kepedulian disabilitas dengan media kaos), komunitas muda ini juga sudah mengunjungi beragam kampus dengan program “IDCC Goes to Campus”, seperti UNS Solo, UPI Bandung, Universitas Siswa Bangsa Internasional Jakarta, Universitas Paramadina dan IPB.tas inklusif peduli disabilitas, selama ini memang gencar menyuarakan ajakan untuk bersinergi dan berkolaborasi antarelemen masyarakat untuk mendukung visinya dalam menciptakan masyarakat inklusif, di mana semua warga

“Harapan kami sederhana, mindset masyarakat terhadap penyandang disabilitas bisa berubah. Penyandang disabilitas tidak ingin dispesialkan tapi juga nggak ingin dikucilkan. Kami ingin dihargai dan diberi kesempatan untuk menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara, seperti bersosialisasi, bekerja dan mengenyam pendidikan. Karena itu, kerjasama antarlembaga masyarakat sangat diperlukan agar harapan ini bisa terwujud,” imbuh Habibie Afsyah.

Penulis: Nurkholis Ainunnajib

Diambil dari: http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/25/disabilitas-pertanian-dan-atm-572186.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *