Goes to Paramadina

IMG_7540Jakarta, Paramadina Social Care (PSC) menggelar seminar disabilitas bersama Indonesian Disabled Care Community (IDCC) dalam rangkaian acara IDCC Goes to Campus, Selasa (09/04/2013). Dengan mengusung tag line “Aware, Care dan Share”, IDCC Goes to Campus telah mengunjungi 3 universitas sebelumnya, yaitu Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Mercubuana, dan Universitas Negeri Jakarta. IDCC lahir dari aktivitas sosial Sampoerna School Education, yang bertujuan untuk membangun sinergi dan kolaborasi untuk membangkitkan potensi penyandang cacat (disabilitas). Selain itu, mereka ingin menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap penyandang cacat yang jumlahnya 3,11 % atau sekitar 6,7 juta dari jumlah populasi penduduk Indonesia pada tahun 2012 (data dari Departemen Kesehatan Indonesia).

Salah satu rangkaian dari seminar disabilitas ini adalah talkshow bersama para penyandang disabilitas. Mereka adalah Habibie Afsyah, Andira Pramatyasari, dan Christy. Dipandu oleh moderator dari PSC, Reza Adichaputra, ketiga penyandang disabilitas ini mulai menceritakan pengalamannya. Habibie adalah seorang tunadaksa yang meskipun fisiknya terbatas, tetapi pemikiran yang dia miliki tidak pernah terbatas. Walaupun dia harus dibantu dengan kursi roda dalam menjalani aktivitasnya, tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya dalam berprestasi. Salah satu prestasi yang dia capai adalah peraih 5 besar Danamon Award 2012.

Selain Habibie, ada Andira, seorang tunanetra yang merupakan mahasiswi tingkat akhir Universitas Indonesia Fakultas Hukum dengan pengkhususan Hukum Ekonomi. Andira, layaknya mahasiswa lainnya, juga aktif di beberapa organisasi, baik di kampus maupun di luar kampus. Di luar kampus, dia aktif dalam organisasi khusus penyandang tunanetra dan organisasi khusus disabilitas yang bertujuan untuk mengampanyekan kebutuhan-kebutuhan penyandang disabilitas. Sebelum menyandang gelar sebagai mahasiswi UI, Andira sempat mengalami kendala saat pendaftaran. Dia ditolak oleh bagian administrasi UI karena dianggap tidak mampu mengakses informasi atau melakukan pendaftaran secara online di internet. Tetapi sampai di tingkat akhir ini, Andira sudah membuktikan bahwa dia juga mampu mengikuti proses belajar seperti layaknya mahasiswa lain. Jadi menurutnya, kesadaran masyarakat dan pemahamannya mengenai disabilitas masih rendah.

Pembicara yang ketiga adalah Christy, seorang arsitek yang menderita penyakit stroke tiga tahun lalu. Pembuluh otak yang pecah di bagian kiri mengakibatkan seluruh aktivitasnya lumpuh total. Dia tidak mampu lagi untuk duduk, berjalan, bahkan berbicara. Semangatnya untuk sembuh sangat tinggi, sampai dia berobat ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Kedua anaknya dan keyakinannya bahwa Tuhan akan selalu bersamanya, membuat dia ingin terus hidup. Christy menjalani berbagai macam terapi, mulai dari terapi bicara, duduk dan akhirnya berjalan. Dalam waktu tiga tahun, keadaannya sudah berangsur-angsur pulih. Padahal sebelumnya dia divonis dokter akan sembuh dalam waktu yang lama. Kini ia kembali menjadi arsitek, pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 25 tahun. Selain kembali menjadi arsitek, Christy juga mulai menulis. Dia sudah menulis 870 artikel dan 2 buah buku yang yang berisi kisah hidupnya. Dan sebagian penjualan dari buku tersebut diperuntukkan untuk penyandang stroke.

Bagi mereka, keluarga adalah orang yang paling berjasa dalam hidup mereka. Seperti kisah Andira, yang orang tuanya selalu berusaha untuk mencarikan sekolah umum untuknya sejak dia kecil. Sedangkan bagi Christy, seorang single parent yang berjuang demi dua anaknya, merasa sangat bangga sebab anaknya tidak malu memiliki ibu yang menderita stroke, bahkan mengenalkannya kepada teman-temannya. Talkshow ditutup dengan sebuah video yang berisi pesan bahwa penyandang disabilitas ini sama dengan kita, hanya saja cara mereka melakukan segala sesuatunya berbeda. Dan mereka percaya bahwa akan selalu ada yang menemani langkah mereka. Because together has power!

Reporter: Kartini Bahar

Editor: Arnaldi Nasrum

diambil dari http://kampusparmad.com/index.php/artikel/lihat/75/Bersama-IDCC-PSC-Gelar-Seminar-Disabilitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *